Aikido adalah seni yang fantastis untuk orang-orang dari segala jenis kelamin atau usia,
tetapi merupakan seni yang sangat hebat bagi wanita. Di dunia saat ini, wanita berada dalam
bahaya serius: satu dari lima wanita kemungkinan akan diserang dalam masa hidupnya,.
Lihat saja berita dan Anda akan melihat banyak bahaya dunia di sekitar kita, dan ketika kita
hidup di dalam dan menavigasi dunia ini kita harus sadar akan mereka.
Ada banyak gaya kelas bela diri yang berbeda, banyak dari mereka mengajarkan wanita cara
memukul, menyikut dan menendang keluar dari serangan. Namun, karena banyak wanita
sangat sadar, mereka tidak sebesar dan kuat seperti kebanyakan pria, dan gagasan
mengandalkan kekuatan mereka untuk melawan penyerang mungkin tampak menakutkan
dan kadang hampir mustahil. Keuntungan dari Aikido adalah bahwa itu tidak bergantung
pada kekuatan atau kekuatan kasar untuk mengeksekusi teknik. Gaya seni bela diri ini
dirancang sebagai sarana untuk menggunakan kekuatan penyerang melawan mereka,
menyatu dengan gerakan mereka daripada melawannya dan menggunakan gerakan mereka
sendiri untuk mengendalikan mereka. Dalam kelas Aikido yang khas Anda akan melihat
para wanita muda yang mungil bekerja dengan pria yang mungkin dua hingga tiga kali
ukuran mereka sendiri, dan Anda akan melihat mereka melemparkan dan mengendalikan
orang-orang sebesar itu sama seperti orang-orang dengan ukuran mereka sendiri.
Karya seni ini karena bergantung pada kunci sendi dan mekanika tubuh, dan tidak
peduli ukuran seseorang persendian dan mekanika tubuh mereka bekerja hampir sama.
Atmosfer Aikido juga menyediakan lingkungan yang sangat kondusif untuk belajar.
Karena tidak ada kompetisi di Aikido, siswa senior tidak akan menahan pengalaman
mereka dengan cara terbaik melakukan teknik tertentu untuk memiliki keunggulan dalam
kompetisi. Aikido adalah seni bela diri yang sangat kolaboratif, dan setiap siswa meneruskan
apa yang telah mereka pelajari di masa lalu dengan sesama siswa. Lingkungan ini membuat
belajar teknik Aikido jauh lebih mudah, dan kerja sama antara siswa membuat posisi
berkompromi yang kita latih melarikan diri dari jauh lebih tidak mengintimidasi.
Lebih dari sekadar pertahanan diri, Aikido mengajarkan kesadaran. Sering kali Aikidoka
ditanya tentang pengalaman mereka menggunakan teknik mereka dalam pengaturan
kehidupan nyata, dan penanya terkejut ketika mereka dengan bangga mengatakan "Saya
tidak pernah harus". Namun, salah satu pelajaran terbesar di Aikido adalah kesadaran
dan kemampuan untuk melihat dan memprediksi situasi berbahaya, dan untuk
menghindarinya. Terus di dojo kami berbicara tentang menyadari lingkungan Anda.
Dalam dojo itu sebagian besar berkaitan untuk memastikan Anda tidak melempar atau
menjepit pasangan Anda ke arah orang lain, tetapi di luar dojo ini berkaitan dengan
menyadari setiap orang di sekitar Anda, setiap sudut gelap di mana seseorang bisa
bersembunyi, setiap berpotensi hasil berbahaya yang dapat dihasilkan dari situasi, dll.
Kesadaran bahwa Anda akan memperoleh lebih dari ratusan jam pembelaan diri.
Aikido adalah seni bela diri yang sempurna untuk wanita, baik dari segi teknik fisik yang
akan Anda pelajari dan latihan mental yang akan mempersiapkan Anda untuk menghadapi
dunia berbahaya di sekitar Anda.
MAKNA FILOSOFI AIKIDO : ' MENGALAHKAN DIRI SENDIRI '
Filosofi Aikido kaya akan filosofi kehidupan. Aikido berarti "Jalan Keselarasan dengan Roh" dan dianggap non-kekerasan bentuk seni bela diri. Namun, jangan tertipu. Aikido bila digunakan dengan benar sangat kuat sering mampu memblokir dan menetralisir serangan yang kuat dan kontra mereka dengan gaya yang sama.
Seni bela diri jepang, yang meminjam tenaga penyerang (uke) untuk digunakan oleh korban (nange). Prinsip aikido dari asal katanya adalah (Ai) keselarasan (Ki) Pusat kehidupan dan (DO) pusat keseimbangan. Aikido adalah beladiri cinta kasih, karena selain pada teknik aikido tidak diajarkan teknik menyerang dan lebih condong lebih defensive, seni bela diri yang didirikan oleh Morehei Ueshiba ini tidak ada hasrat untuk menjatuhkan lawan yang ada hanya kita mencoba untuk megalirkan tenaga uke untuk menyelesaikan teknik, intinya adalah agar uke maupun nange aman. Dalam Aikido dikenal "Aiki".
Belajar aikido tidak hanya belajar teknik (waza), tetapi aikidoka juga harus belajar menguasai emosi, mengontrol energi, sikap kerendahan hati,belajar memahami orang lain, alam semesta dan cinta kasih karena itu adalah hal yang utama dalam memahami jiwa atau spirit dari aikido. Hal yang tidak boleh dilupakan dari belajar aikido adalah aplikasinya, yang harus diterapkan tidak hanya pada saat latihan tetapi dalam kehidupan sehari-hari.
Aikido kaya akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka.
Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. Aikido bukanlah agama tetapi pendiri Aikido pernah berkata bahwa dengan mempelajari Aikido, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajari. Aikido mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama (celana khas Jepang) yang dikenakan oleh praktisi Aikido yang telah tinggi tingkatannya. Pada hakama terdapat 7 butir ajaran samurai yang mewakili 7 pilar “Budo” (Jalan Pedang).
Tujuh ajaran ini meliputi:
- Kebenaran dan Kebaikan,
- Sikap Hormat dan Kehormatan,
- Ketulusan dan Kejujuran,
- Loyalitas,
- Kesopanan dan Sopan Santun,
- Pengetahuan dan Hikmah Kebijaksanaan,
- Keberanian.
Jadi praktisi aikido yang telah mengenakan hakama diharapkan mengerti, memahami dan menjalankan dari apa yang dikenakan.
Lebih mendalam lagi, Aikido mengajarkan tentang kehidupan dan bagaimana agar kita dapat menjalaninya secara harmonis. Pendiri Aikido pernah berkata “ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi”yang berarti “Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun”. Aikido menganut filosofi “muteki” atau “tidak ada musuh”. Maksudnya musuh terbesar dalam hidup kita adalah mengalahkan diri sendiri, setelah berhasil, maka sebenarnya tidak ada musuh di kehidupan ini. Musuh sebenarnya adalah diri kita sendiri. Agar dapat mencapai hal ini, kita membutuhkan “Makoto” atau “Hati yang bersih”. Dengan hati yang bersih, maka kita dapat melihat/ menilai apa yang ada di hadapan kita dengan lebih jelas, ibarat air danau yang jernih dan tenang, maka permukaannya akan memantulkan refleksi seperti apa adanya.
Ajaran ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa Aikido tidak ada kompetisi dan bukan bela diri sport. Karena Aikido dimaksudkan bukan untuk mengajarkan menang atau kalah dan sikap sportif tetapi lebih kepada pelajaran untuk pembentukan karakter tiap praktisinya baik dari sisi hati, akhlak, moral, mental dan terakhir, fisik.
Aikido, kurang atau lebihnya, adalah seni untuk memahami entitas energi. Energi bisa terdapat dalam unit apapun di alam dan kehidupan sehari-hari. Makhluk hidup, benda, mesin. Bahkan sesuatu yang bersifat mental; emosi, perasaan, kekuatan politik, perjanjian, hukum, norma, budaya, seni.
Dalam konteks fisik, dojo, latihan, praktik; aikido adalah seni memahami kekuatan energi penyerang, yakni tentang dari mana kekuatan dibangkitkan, disalurkan melalui mekanisme tubuh penyerang, lalu disampaikan kepada target serangan. Secara prinsipil; serangan adalah perpindahan energi yang disalurkan ke target perpindahan energi; dengan tujuan negatif. Energi bisa berpindah tempat melaui mekanisme biologis dari tubuh dan anggota tubuh pemilik energi; penyerang. Energi serangan lalu menemui titik kontak fisik dengan target serangan; lalu terjadi tubrukan energi. Akibat dari tubrukan energi adalah kerusakan, dari skala terkecil hingga terbesar; dari sekedar cidera ringan hingga kematian.
Bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh tahun, praktisi aikido secara tehnik berlatih untuk memahami hal tersebut. Sebagian berkutat pada “bentuk” tehnik, sebagian lebih maju mengekplorasi “konsep” dan “strategi”, sebagian kecil mencapai tahap “pemecahan masalah” dengan cara “yang lebih baik” dan manusiawi.
Aikido, kurang atau lebihnya, adalah seni untuk memahami entitas energi. Energi bisa terdapat dalam unit apapun di alam dan kehidupan sehari-hari. Makhluk hidup, benda, mesin. Bahkan sesuatu yang bersifat mental; emosi, perasaan, kekuatan politik, perjanjian, hukum, norma, budaya, seni.
Dalam konteks fisik, dojo, latihan, praktik; aikido adalah seni memahami kekuatan energi penyerang, yakni tentang dari mana kekuatan dibangkitkan, disalurkan melalui mekanisme tubuh penyerang, lalu disampaikan kepada target serangan. Secara prinsipil; serangan adalah perpindahan energi yang disalurkan ke target perpindahan energi; dengan tujuan negatif. Energi bisa berpindah tempat melaui mekanisme biologis dari tubuh dan anggota tubuh pemilik energi; penyerang. Energi serangan lalu menemui titik kontak fisik dengan target serangan; lalu terjadi tubrukan energi. Akibat dari tubrukan energi adalah kerusakan, dari skala terkecil hingga terbesar; dari sekedar cidera ringan hingga kematian.
Bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh tahun, praktisi aikido secara tehnik berlatih untuk memahami hal tersebut. Sebagian berkutat pada “bentuk” tehnik, sebagian lebih maju mengekplorasi “konsep” dan “strategi”, sebagian kecil mencapai tahap “pemecahan masalah” dengan cara “yang lebih baik” dan manusiawi.
Secara konsep dan strategi, bela diri aikido terbagi menjadi tiga bagian. Bertemu kontak dengan energi serangan, meruntuhkan keseimbangan, dan akhirnya melakukan tehnik bela diri. Konsep dan strategi ini tentu ditopang oleh pondasi tehnis lain yang sangat penting. Seperti kuda-kuda, jarak, kewaspadaan, gerak dasar, jurus dasar, dan lain-lain.
Ketika seorang praktisi telah begitu “maju” dalam hal teknis, dimana bela diri aikido adalah semudah hatinya berkehendak, maka akhirnya, aikido adalah masalah hati. Lalu tiba-tiba energi utama pembelaan diri adalah kondisi hati; kondisi batin. Terbukalah suatu tabir bahwa penyerangan bermula dari hati, maka pembelaan diri juga seyogyanya adalah dari hati. Dari pemahaman energi secara fisik, beralih menjadi pemahaman energi secara mental; atau bahkan secara metafisika.
Seorang praktisi lalu menjadi orang yang lebih “bijaksana” dibanding sekian puluh tahun yang lalu ketika ia baru saja mengenal aikido. Dari si muda yang hatinya penuh terisi dengan ambisi akan kekuatan dan penaklukan, hingga menjadi si renta “sakti” yang hatinya penuh mahfum, dengan segalanya telah digenggam di tangan. Lalu, si praktisi, betapapun tinggi gunung telah di dakinya, betapapun jalan panjang telah dilewatinya melebihi siapapun, meninggal.
Selebihnya, siapa yang tahu. Karena alam sesudah kematian bukanlah jangkauan aikido.
Aikido – jalan keselarasan: dari tiada, menjadi ada, lalu tiada kembali….
Maka akhirnya, keselarasan sejati adalah milik Sang Pencipta.
Ketika seorang praktisi telah begitu “maju” dalam hal teknis, dimana bela diri aikido adalah semudah hatinya berkehendak, maka akhirnya, aikido adalah masalah hati. Lalu tiba-tiba energi utama pembelaan diri adalah kondisi hati; kondisi batin. Terbukalah suatu tabir bahwa penyerangan bermula dari hati, maka pembelaan diri juga seyogyanya adalah dari hati. Dari pemahaman energi secara fisik, beralih menjadi pemahaman energi secara mental; atau bahkan secara metafisika.
Seorang praktisi lalu menjadi orang yang lebih “bijaksana” dibanding sekian puluh tahun yang lalu ketika ia baru saja mengenal aikido. Dari si muda yang hatinya penuh terisi dengan ambisi akan kekuatan dan penaklukan, hingga menjadi si renta “sakti” yang hatinya penuh mahfum, dengan segalanya telah digenggam di tangan. Lalu, si praktisi, betapapun tinggi gunung telah di dakinya, betapapun jalan panjang telah dilewatinya melebihi siapapun, meninggal.
Selebihnya, siapa yang tahu. Karena alam sesudah kematian bukanlah jangkauan aikido.
Aikido – jalan keselarasan: dari tiada, menjadi ada, lalu tiada kembali….
Maka akhirnya, keselarasan sejati adalah milik Sang Pencipta.
Ketika Sang Pencipta Berkata kepada ciptaan: “Datanglah kepada Ku, dengan sukarela atau terpaksa.”
Maka jawaban seluruh semesta adalah: “Kami datang dengan suka rela ya Tuhanku.”
*****
Semua filosofi Aikido itu baik kalau kita mampu menjalaninya, tapi apakah semudah itu. Sebagai Aikidoka, lebih sering hati tersulut emosi manakala ada yang mengeluarkan kata-kata cacian atau bersifat menghina bahkan menantang. Mungkin banyak yang bilang bahwa itu adalah lumrah sebagai manusia, apalagi membenarkan kondisi itu dengan embel-embel asal daerah alias suku yang memang bersifat temparemental . Namun kalau tetap memberikan toleransi terhadap reaksi diri akibat ego yang tersulut, terus kapan dapat menjiwai semangat Aikido seperti yang telah dipelajari selama belasan tahun? Sulit untuk men jawab itu. Yang pasti bahwa Aikido bukan semata-mata beladiri tapi Aikido adalah Budo, semangat para Samurai, yang tujuannya adalah “Spiritual Development”, yaitu melatih “mind & body” melalui (dengan) latihan setiap hari dan berusaha sekuat mungkin untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aikido adalah “The Way to Harmony with (of) Ki “
Aikido adalah “The Way to Harmony with (of) Ki “
Sumber: http://www.naqsdna.com
FILOSOFI AIKIDO
Viewer
Join with Us
Recent Posts
Trending
Featured Post
Advertisement
Cari Blog Ini
Blog Archive
- Maret 2018 (2)
- Februari 2018 (1)
- Januari 2018 (1)
- Desember 2017 (1)
- November 2017 (2)
- Oktober 2017 (3)
- September 2017 (9)